Fayakhun Andriadi Beberkan Contoh Buruknya Mentalitas Bangsa



Jika pada ulasan sebelumnya Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, menjelaskan mengenai faktor penyebab  buruknya mentalitas bangsa, maka pada ulasan berikutnya ia mencontohkan beberapa kasus buruknya mentalitas tersebut. Ia menulis :
“Saya ingin memberikan contoh mentalitas bangsa yang merupakan buah dari akumulasi contek-mencontek tersebut. Dua contoh tersebut berkaitan dengan posisi saya sebagai anggota DPR RI Komisi I dan sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan DKI Jakarta.”

“Pertama, belum lama ini kami di Komisi I DPR mengesahkan anggaran sebesar 57 triliun untuk pembenahan Alutsista (alat Utama Sistem Persenjataan Utama). Anggaran ini bertujuan untuk merealisasikan pemenuhan kebutuhan minimal alat utama sistem persenjataan (Alutsista) inti yang dijabarkan dalam konsep 'minimun essential force' (MEF).”
“Saya dan beberapa kawan di Komisi I sangat menyadari bahwa tidaklah mudah untuk menekan hasrat beberapa pejabat yang selama ini diuntungkan oleh impor alutsista. Mentalitas manipulatif dan meraih keuntungan secara instan sudah berlangsung sejak lama, karenanya tidaklah mudah untuk dikikis. Hanya saja, kenyataan yang memperihatinkan ini menjadi pendorong bagi kami untuk lebih rajin 'rewel' dalam rangka mengawal tujuan kemandirian alutsista. Sudah 'diteriakin' saja masih saja melenceng apalagi dibiarkan. Tanpa pengawasan yang ketat, maka lima tahun mendatang baru kita tersadar bahwa dana 57 triliun tersebut tidak bermanfaat apa-apa dalam membangun kejayaan bangsa,” lanjut Fayakhun.

“Kedua, pembenahan ibukota Jakarta. Ruwetnya pembenahan ibukota Jakarta disebabkan oleh pertautan dua mentalitas yang tidak benar, yaitu mentalitas manipulatif para pejabat dan mentalitas tidak disiplin masyarakatnya. Di sisi pejabat, anggaran-anggaran yang diajukan untuk pembenahan ibukota lebih dilihat sebagai ajang memperkaya diri sendiri, bukan pada menyelesaikan persoalan sebenarnya. Sementara di sisi masyarakat, kesadaran untuk mematuhi aturan sangatlah rendah. Alih-alih patuh, kebanyakan malah merasa bangga karena mampu melanggar peraturan. Adagium mereka: peraturan dibuat untuk dilanggar.”
“Contoh sederhana lihat saja perilaku pengendara (motor dan mobil) di jalan raya: betapa tidak disiplin, tidak taat aturan, dan tidak menghargai satu sama lain. Seperti saat ujian di sekolah, kalau tidak ada pengawas ujian maka semua hal boleh dilakukan. Hal itu juga berlaku di jalan raya. Selama polisi tidak ada maka semua hal boleh mereka lakukan. Yang ditakuti para pengendara jalan raya bukanlah aturan tapi adalah polisi,” timpal Fayakhun.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fayakhun Andriadi : Kokohkan Kebangsaan dengan Akhlak Mulia

Fayakhun Andriadi, Sesalkan Penurunan Partisipasi Politik

Fayakhun Andriadi ; Perhatikan Nasib Pengusaha Kecil