Fayakhun Andriadi, Sesalkan Penurunan Partisipasi Politik



Fayakhun Andriadi  mengkhawatirkan grafik yang terus menurun ini sangat mengkhawatirkan. Karena tingkat partisipasi politik memilih merupakan indikator perkembangan dan kematangan demokrasi sebuah negara. Penurunan angka partisipasi politik bisa diinterpretasikan sebagai adanya sesuatu yang salah dalam praktek demokrasi di sebuah negara. Karena peningkatan angka Golput dianggap sebagai indikasi apatisme politik warga negara terhadap politik di negaranya. “Meski beberapa ilmuwan politik tidak setuju dengan logika pengambilan kesimpulan yang seperti ini. Namun, secara umum partisipasi politik dianggap sebagai variabel penting demokratisai sebuah negara,” ujar Fayakhun Andriadi.
Menurut Fayakhun Andriadi untungnya, pada Pemilu Legislatif 2014 yang baru berlalu, tingkat partisipasi politik pemilih mengalami peningkatan signifikan sebanyak 5 digit persen, dari 70 persen menjadi 75 persen. Fenomena Golput yang sebelumnya dikhawatirkan meningkat tajam, ternyata tidak terjadi.
Fayakhun Andriadi mempertanyakan, apakah peningkatan partisipasi politik pemilih ini dipacu oleh kehadiran teknologi digital (sosial media) di dunia politik? Sekali lagi, belum ada riset dan data valid tentang korelasi keduanya. Namun setidaknya satu fakta yang penting bahwa jumlah pemilih pemula pada Pileg 2014 mencapai 50 juta pemilih. Artinya, bukan sesuatu yang terlalu jauh untuk dikorelasikan, jika sosial media mungkin saja menjadi faktor yang memantik ketertarikan pemilih pemula untuk berpartisipasi secara politik. Karena politik sudah mulai dekat dengan dunia mereka: dunia digital.
Apalagi, dalam teori politik, menurut Fayakhun Andriadi rendahnya partisipasi politik dapat teratasi oleh faktor modernisasi dan meningkatnya komunikasi massa (Sastroadmodjo:1995). Artinya, teknologi digital sebagai produk modernisasi dan alat komunikasi yang “berbasis” massa besar, sangat mungkin sekali turut memberikan andil pada peningkatan angka partisipasi politik pemilih sebesar 5 persen tersebut. Dan pemilih pemula mungkin saja dominan mengisi populasi lima digit tersebut.
Memang perlu riset lebih mendalam bagi Fayakhun Andriadi untuk melihat korelasi meningkatnya partisipasi politik dengan efektifitas penggunaan teknologi digital sebagai perangkat komunikasi politik. Tidak boleh sekedar asumsi atau dugaan semata. Namun jika kita merujuk pada semakin massifnya penggunaan teknologi digital di berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, maka sudah saatnya bagi seluruh elemen politik di negara kita untuk menoleh pada teknologi ini. Salah satu tujuan pentingnya adalah agar generasi muda Indonesia (pemilih pemula) yang akan mengisi masa depan negara ini tidak menjadi semakin apatis dan menjauhi politik. Dan salah satu cara efektif untuk mengantisipasi hal ini adalah dengan “memasukkan” politik ke dunia mereka, yaitu dunia digital. Politik tidak boleh lagi terus menerus asyik masyuk di dunianya yang konvensional dan tradisional, sementara dunia sudah mengalami modernisasi dan teknokrasi.
Bagaimanapun menurut Fayakhun Andriadi, generasi muda itulah yang akan menerima estafet kepemimpinan bangsa ini ke depan.Menjadi tugas politik/politisi untuk menjemput mereka ke dunianya: digital.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fayakhun Andriadi : Kokohkan Kebangsaan dengan Akhlak Mulia

Fayakhun Andriadi ; Perhatikan Nasib Pengusaha Kecil