Fayakhun Andriadi Ajak Masyarakat Indonesia “Pede” di Hadapan Bangsa-Bangsa Lain
“Apa yang menjadi `trend` dunia dalam detik yang sama akan tiba di
Indonesia, begitupun sebaliknya,” ujar Fayakhun
di Jakarta, sehubungan perayaan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.
Tegas Fayakhun Andriadi,
politisi muda yang pernah bertugas di Komisi I DPR RI (bidang Luar Negeri,
Pertahanan, Intelijen, Komunikasi-Informatika) ini sangat menghendaki,
Harkitnas kali ini harus benar-benar di maknai secara sungguh-sungguh.
Arti `kebangkitan nasional` di era abad 21, di era abad yang serba
digital, tentu mempunyai esensi, tantangan, dan kesempatan yang berbeda dengan
103 tahun yang lalu,” kata legislator yang tengah menuntaskan studi doktor ilmu
politiknya di Universitas Indonesia (UI) ini.
Generasi muda sekarang, menurutnya, harus mampu `bangkit` dengan
memanfaatkan teknologi sebagai sarana perjuangan.
Memainkan Era Digital
Fayakhun Andriadi berulangkali menekankan, agar Harkitnas harus mampu memunculkan `paradigma baru
kebangkitan nasional`, yaitu mewujudkan Indonesia bermartabat, yang
masyarakatnya Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila.
“Paradigma baru yang dimaksud adalah memanfaatkan sekaligus
memainkan era digital, sebagai era kebangkitan nasional Indonesia,” tegasnya.
Bila selama ini Indonesia banyak bergantung pada kekayaan alamnya
(SDA), demikian Fayakhun Andriadi, pada paradigma baru sekarang kita bisa
“tercerahkan” dengan memanfaatkan keunggulan SDM.
“Fenomena
bahwa pengguna `Facebook` nomor dua terbesar di dunia adalah Indonesia, dan
`influencing` 50 persen `traffic tweeter` dunia, membuktikan bahwa SDM
Indonesia sangat terpacu dengan dunia digital,” ujarnya.
Persoalan sekarang, katanya, ialah bagaimana kita “mengubah” kultur
pengguna internet kita, agar tidak memanfaatkan `Facebook` dan `Tweeter` hanya
untuk kegiatan yang tak produktif.
Meroket Ke Atas
Artinya, menurut Fayakhun Andriadi, penggunaanya jangan hanya
didominasi untuk foto-foto pribadi, kegiatan privat, `ngobrol `ngalor `ngidul,
kencan-kencan gelap, atau hal lain kurang bermutu.
“Tetapi, dimanfaatkan untuk mendorong masyarakat Indonesia agar
menggunakannya untuk “memasarkan” keunggulan Indonesia. Jadi, foto-foto pribadi
diganti dengan foto-foto lokasi alam yang sangat indah, lengkap dengan
alamatnya,” jelasnya.
Kemudian, lanjutnya, dimuat pula foto-foto menampilkan hasil produk
unggulan daerah (batik, tenun, hasil bumi, serta aneka komoditas unggul),
sehingga pembeli mancanegara dapat mengakses langsung tanpa makelar atau
tengkulak.
Selain itu, ujarnya, ada foto-foto atau film pendek menampilkan
tarian-tarian, juga keunggulan budaya bangsa Indonesia dari seanteru Bumi
Nusantara.
“Kalau hal tersebut dilakukan bersama-sama puluhan juta pengguna
`smartphone` dan internet, saya yakin nama Indonesia di pentas dunia akan
melesat ke atas. Lebih tepatnya: “meroket ke atas”,” tandasnya optimistis.
Fayakhun Andriadi yakin, turis akan datang berduyun-duyun mencari
lokasi wisata yang masih alami, dan mengagumi secara langsung budaya Indonesia
(tarian, artifak, bangunan peninggalan, keraton, dan peradaban manusia serta
kedahsyatan alamnya.
“Dan itu tadi, pasar dunia akan datang membeli produk unggulan
daerah langsung tanpa tengkulak. Ini secuil dari hasil elabborasi saya tentang
paradigma baru kebangkitan nasionl kita era ini. Ayo bangkit,” pungkas Fayakhun
Andriadi.
Komentar
Posting Komentar